Kembali Artikel

Apa yang paling bermakna dalam hidup?

Apa yang paling bermakna dalam hidup? Pertanyaan ini mungkin sering terlintas, dalam benak setiap pribadi yang terbatas. Tentang “makna” yang terlihat samar, yang sulit dikenali tanpa hati yang sabar.

“Makna” bukanlah sebuah kebetulan, Ia adalah sebuah keniscayaan. Tak peduli, seacak apa pun bentuk yang ditampilkan, selalu tersedia pesan yang menunggu untuk ditemukan.

Setiap jiwa memiliki maknanya sendiri, yang lahir dari setiap keragaman latar yang menyertai. Ada yang dapat melihat jelas cahayanya. Ada yang samar dalam menyadarinya. Dan ada pula yang tertatih-tatih dalam mencoba untuk merasakannya.

Bagiku, “Makna” kerap menjelma sebagai puncak dari sebuah pencapaian. Tentang hidup yang sibuk, produktif dan penuh keberhasilan.

Di sisi lain, “makna” berubah menjadi sebuah pengakuan, tentang sebuah rasa untuk dicintai, dibutuhkan, dan menolak pengabaian.

Dahulu, Aku pernah mengira, bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang penuh dan tercapai. Penuh akan tujuan dan keberhasilan. Penuh akan rencana yang terwujudkan. Dan, Penuh akan peran dan keterlibatan.

Hingga suatu saat, prasangka tersebut mulai goyah, dan mulai terbesit sebuah pertanyaan: Jika semuanya sudah diraih, lalu apa?

Pada titik itu, aku mulai sadar, Bahwa, “makna” ternyata tidak selalu bertambah beriringan dengan ramai dan meriahnya kehidupan. Kadang, justru ia muncul saat aku berani berhenti, dan jujur pada diri sendiri.

Dalam Islam, Allah tidak pernah membiarkan untuk hidup tanpa sebuah tujuan. Karena Allah tidak menciptakan manusia, lalu membiarkannya untuk menebak-nebak langkah.

Maksud dari penciptaan-Nya adalah tentang bagaimana menemukan sebuah arah. Tentang kepada siapa hidup ini ditujukan. Tentang untuk siapa lelah ini dipersembahkan. Dan tentang untuk apa hidup ini diperjuangkan.

Mungkin itulah alasannya, mengapa terdapat cerita orang-orang yang hidupnya terlihat sederhana, namun hatinya dalam ketenangan yang nyata.

Sedangkan ada cerita yang mereka hidupnya tampak sempurna, namun jiwanya terasa hampa. Karena “makna” bukan tentang seberapa banyak dimiliki, Melainkan tentang, seberapa sadar aku melihat cahaya-Nya dalam setiap peristiwa?

Ketika “makna” akan kehidupan, dipisahkan dan dilepaskan dari-Nya, maka, jiwa akan terjebak dalam sebuah pencarian. Mencoba menyandarkannya, Pada segala hal yang tak tentu dan fana.

Seperti bersandar pada manusia, pencapaian yang mudah sirna, validasi yang penuh tipu daya, atau keadaan yang tak pernah setia.

Setiap kali hal tersebut berubah, maka jiwa pun akan ikut goyah, dan mudah patah.

Tapi, apabila kehidupan, Sepenuhnya diarahkan kepada-Nya, maka akan muncul sebuah kesadaran, bahwa hal-hal kecil pun menyimpan sebuah pesan. Setiap tindakan memiliki nilai yang istimewa. Selama kita tahu ke mana hati ini menghamba.

Mungkin, hidup yang bermakna bukan hidup yang terlihat megah dalam pandangan manusia. Ia tumbuh dalam kesadaran yang sesuai pada garis fitrah.

Di dalamnya, terdapat ruang, untuk hal-hal yang tersembunyi dan tak tampak. Yang membentuk sebuah percakapan, antara apa yang dilakukan dan untuk siapa dipersembahkan.